MENGGALI NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN
Diary Jumadil Awal (19)
*MENGGALI NILAI-NILAI KEPAHLAWANAN*
*(Catatan Dari Apel Hari Pahlawan Santri Ponpes Al-Ittihadiyah NW Sepakat)*
رِضَى اللهِ فِي رِضَى الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ اللهِ فِي سُخْطِ الْوَالِدَيْنِ
Artinya: “Ridha Allah ada pada Ridha kedua orang tua, dan murka Allah ada pada murka kedua orang tua.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Hibban, Hakim)
Santri kini sedang berjuang menggapai ilmu, meraih mimpi menjadi insan yang punya manfaat, serta yang pasti ingin membahagiakan kepada kedua orang tua dan guru. Ketika seorang satri tidak lagi cengeng, pantang menyerah melaksanakan tugas-tugas dari sekolah, maka itu artinya sudah ada nilai-nilai keahlawanan dalam dirinya. Santri yang pantang bolos, selalu disiplin dengan aturan sekolah, juga dapat kita sebut santri tersebut sudah menanamkan nilai kepahlawanan dalam dirinya.
Karena dia sedang dalam proses perjuangan menjadi orang yang berjasa buat dirinya dan keluarga. Dia sedang berjibaku, tengah melawan segala aral melintang yang akan menghambatnya dalam meraih mimpi. Suatu hari nanti, dengan ilmu yang dia tuntut saat ini, akan mengantarkannya menjadi insan yang sangat dibutuhkan masyarakat dan bangsa.
Maka jadilah satri yang menyenangkan bagi Allah dan manusia. Kalau sudah bisa kita membuat Allah senang, manusia senang, maka itulah keberhasilan yang luar biasa. Inilah tanda kesuksesan sejati, manakala bisa kita membuat Allah senang, manusia senang. Allah ridho dan senang oleh karena kita telah menjaga shalat lima waktu, berarti kita telah selamat dari neraka yang sangat dahsyat kengeriannnya. Kalau hal tersebut kita dapatkan, artinya nilai kepahlawanan suda melekat dalam diri.
Karena apa artinya kita hebat dalam pandangan manusia, kalau kelak di akhirat dibakar di neraka oleh karena kita mengabaikan shalat. Tidak ada gunanya prestasi prestasi selangit kalau kelak diakhirat kita melolong-lolong kepanasan dibakar api neraka. Kesuksesan dunia tidak berguna kalau kita masuk neraka oleh sebab kita mendurhakai Allah, tidak bisa membuat Allah ridho dan senang.
Rahasia kemuliaan yang kedua yaitu membuat manusia senang. Kalau tidak mampu memberi sesuatu yang menyenangkan hati manusia, minimal kita tidak membuatnya terganggu, tersakiti. Kalau saja kita bisa membuat senang banyak orang oleh sebab jasa kita, orang lain tersenyum oleh sebab peran dan dedikasi kita, berarti sudah ada nilai kepahlawanan daa diri kita. Karena pada intinya nilai kepahlawanan itu kebermafaatan untuk sesama.
Menyenangkan kedua orangtua dan guru menjadi kunci keberkahan. Karena Tuhan akan ridho kalau orang tua kita ridho. Allah akan senang kalau kita bisa menyenangkan kedua orang tua. Karena ada hadits Nabi yang populer ridhollohufii ridhol waalidain "ridho Allah tergantung ridho kedua orang tua. Wasukhthullohi fii sukhtil waalidain dan murka Allah bergantung murka kedua orang tua.
Termasuk orang tua kita adaah guru. Senangkan hatinya dengan rajin belajar. Mereka menasihatimu oleh karena cintanya pada para santri. Kadang juga suatu ketika dia menghukummu ketika melanggar disiplin. Seorang guru oleh karena ingin santrinya jadi orang hebat, bisa berubah menjadi lebih baik, maka memberi pelajaran dengan wasilah punishment.
Punishment jangan dianggap seorang guru membenci muridnya, bahkan sebaliknya, punishment itu bukti cinta seorang guru terhadap muridnya. Bayangkan kalau ada orang menasihati kita, wahai anakku, jangan lewat disitu, nanti kamu digigit ular. Disemak-semak itu ada bahaya, takutnya kamu dililit ular. Awas ya, jangan sekali-kali melalui jalan itu. Itulah nasihat mengandung rasa cinta pada orang yang dinasehati. Tidak rela oranglain tersakiti, maka dia menasehatinya.
Demikian dengan seorang guru, tidak rela santrinya dibelakang hari mendapatkan penderitaan oleh sebab kemalasannnya. Kalau saja ketidakdisiplinannya ini terus menerus dilakukannnya, akan berakibat buruk bagi masa depannya. Maka seorang guru mencari cara agar satrinya berubah, sadar dan mengerti bahwa hal tersebut akan menjadi penyakit berbahaya untuk kemajuan dan kesuksesannya di belakang hari.
Disinlah nilai-nilai kepahlawaan yang hampir kabur, karena disatu sisi terlihat menyiksa muridnya dengan hukuman, tapi sejatinya sedang menolong sang murid terlepas dari penderitaan, membantu sang murid untuk meraih cita-citanya, ketika dia berhenti malas, berhenti tidak disiplin, oleh karena tersadar dan berubah oleh punishmen yang diberikan.
"Lapor....! Upacara Bendera dalam rangka memperingati Hari Pahlawan Siap Dimulai..!" seru Ijal Saputra Hasan yang bertindak sebagai pemimpin upacara. Siswa kelas XII MA Al-Ittihadiyah NW Sepakat yang berasal dari Kupang NTT ini nampaknya telah menanamkan nilai-nilai kepahlawanan, karena telah rela berpahit-pahit, rela berpisah 6 tahun dengan ortunya, karena tengah berjuang menjadi pahlawan buat keluarga dan tentunya juga buat masyarakat.
*(Senin 10 Jumadil Awal 1445 H/11 Nopember 2024)*
Komentar
Posting Komentar